Jelang Kick-off Piala Dunia 2026, Sejumlah Kontroversi Bayangi Turnamen Terbesar FIFA

KANAL OLAHRAGA– Kurang dari sepekan menjelang dimulainya Piala Dunia 2026 pada 11 Juni mendatang, berbagai kontroversi dan persoalan nonteknis justru menjadi sorotan publik internasional.
Turnamen yang akan berlangsung di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko itu sejatinya menjadi edisi paling ambisius dalam sejarah FIFA, dengan melibatkan 48 negara peserta dan total 104 pertandingan.
Di tengah tingginya antusiasme penggemar sepak bola dunia, sejumlah isu mulai mencuat dan memunculkan pertanyaan mengenai kesiapan penyelenggaraan ajang empat tahunan tersebut.
Mulai dari dugaan keberpihakan politik FIFA, pembatasan akses bagi suporter asing, mahalnya harga tiket, hingga persoalan lingkungan hidup menjadi perbincangan hangat menjelang laga pembuka.
Salah satu isu yang paling banyak mendapat perhatian adalah dugaan berkurangnya netralitas politik FIFA. Presiden FIFA, Gianni Infantino, dinilai terlalu dekat dengan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Kedekatan keduanya terlihat dalam sejumlah agenda resmi menjelang turnamen.
Kritik pun muncul karena FIFA selama ini memiliki prinsip untuk menjaga independensi dari kepentingan politik negara tertentu. Situasi tersebut semakin sensitif mengingat Amerika Serikat saat ini memiliki hubungan yang tegang dengan Iran, salah satu negara peserta Piala Dunia 2026.
Di sisi lain, kebijakan imigrasi Amerika Serikat juga menjadi perhatian. Menjelang kedatangan jutaan suporter dari berbagai negara, sejumlah kelompok pendukung mengeluhkan proses pengurusan visa yang dinilai rumit dan tidak merata.
Beberapa negara menghadapi pembatasan yang lebih ketat dibandingkan negara lain, sehingga menimbulkan kekhawatiran bahwa tidak semua penggemar dapat menyaksikan langsung tim kesayangannya bertanding.
Masalah berikutnya datang dari penjualan tiket. Sejak fase awal penjualan dibuka beberapa bulan lalu, banyak penggemar mengeluhkan harga yang terus berubah akibat penerapan sistem harga dinamis. Menjelang pertandingan pembuka, sejumlah tiket premium untuk partai final bahkan tercatat mencapai ratusan ribu dolar AS.
Kondisi ini memicu kritik dari kelompok suporter dan lembaga perlindungan konsumen yang menilai proses penjualan kurang transparan.
Sementara itu, format baru yang memperluas jumlah peserta dari 32 menjadi 48 tim juga masih menuai perdebatan. FIFA menilai kebijakan tersebut akan membuat sepak bola lebih inklusif dan memberi kesempatan bagi lebih banyak negara tampil di panggung dunia.
Namun sejumlah pengamat menilai penambahan peserta berpotensi menurunkan kualitas kompetisi dan membuat fase grup kehilangan daya saing.
Persoalan lingkungan turut menjadi sorotan menjelang turnamen. Luasnya wilayah penyelenggaraan yang membentang dari Kanada hingga Meksiko diperkirakan akan meningkatkan mobilitas penerbangan dalam jumlah besar.
Sejumlah organisasi lingkungan memperingatkan bahwa Piala Dunia 2026 berpotensi menghasilkan emisi karbon yang sangat tinggi dibandingkan edisi-edisi sebelumnya.
Dengan waktu penyelenggaraan yang semakin dekat, FIFA kini menghadapi tantangan besar untuk memastikan seluruh kontroversi tersebut tidak mengganggu jalannya turnamen.
Di luar persaingan para pemain di lapangan, Piala Dunia 2026 juga akan menjadi ujian penting bagi tata kelola, transparansi, dan kredibilitas sepak bola dunia di era modern.






