Kemenpora Dorong Paradigma Baru: Olahraga sebagai Sumber Pendapatan Nasional
JAKARTA – Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) RI Erick Thohir menegaskan bahwa sektor olahraga tidak lagi dapat dipandang sebagai pusat biaya (cost center), melainkan sebagai peluang ekonomi (revenue opportunity) yang mampu mendorong pertumbuhan nasional dan memperkuat citra bangsa.
Hal itu disampaikan Erick saat menjadi narasumber dalam Konferensi Pers Pemerintah yang digelar Badan Komunikasi (Bakom) RI, Kamis (2/7/2026), di Jakarta. Dalam forum tersebut, ia hadir bersama Kepala Bakom RI Muhammad Qodari untuk memaparkan arah kebijakan penguatan ekosistem olahraga nasional tahun 2026.
Erick menyebutkan bahwa perubahan paradigma ini menjadi fokus utama Kemenpora, terlebih setelah arahan Presiden RI Prabowo Subianto dalam penguatan sektor strategis berbasis ekonomi produktif.
“Olahraga harus dilihat sebagai revenue opportunity dan national branding. Kami sedang menyamakan pola pikir seluruh pemangku kepentingan,” ujar Erick.
Ia menyoroti besarnya potensi sport tourism secara global yang mencapai ratusan miliar dolar AS dengan pertumbuhan stabil setiap tahun. Menurutnya, Indonesia memiliki peluang besar untuk masuk dalam pasar tersebut melalui penyelenggaraan event olahraga berskala nasional hingga internasional.
Erick mencontohkan maraton di berbagai kota Indonesia yang kini mencapai lebih dari 100 event dengan jutaan peserta. Aktivitas tersebut, kata dia, memicu perputaran ekonomi mulai dari sektor transportasi, perhotelan, hingga industri perlengkapan olahraga.
“Hotel penuh, restoran ramai, UMKM bergerak. Ini efek berantai yang sering tidak dihitung,” ujarnya.
Ia juga menyinggung dampak ekonomi dari ajang besar seperti MotoGP Mandalika yang disebut telah menghasilkan perputaran ekonomi hingga triliunan rupiah, serta meningkatnya investasi di sektor pariwisata sekitar kawasan penyelenggaraan.
Selain itu, Erick menyoroti potensi pengembangan liga olahraga domestik seperti sepak bola dan bola basket yang saat ini memiliki nilai ekonomi ratusan miliar rupiah, namun masih terbatas pada beberapa cabang saja.
“Kalau kita punya lebih banyak liga profesional, dampaknya akan jauh lebih besar. Di Amerika Serikat, industri olahraga sudah menjadi mesin ekonomi utama,” tegasnya.
Kemenpora, lanjut Erick, juga tengah menyiapkan program jangka panjang mulai dari pembinaan atlet, dana pensiun, penyederhanaan regulasi, hingga pemerataan akses olahraga disabilitas sebagai bagian dari ekosistem yang inklusif dan berkelanjutan.






